PERUBAHAN KEBUDAYAAN (SOCIAL CHANGE)
Oleh: Zulfi Khayatul Insyiroh (04020520089)
A. Pengertian
Budaya berasal dari kata
Sanskerta buddhaya, yaitu bentuk jamakdari budhi yang berarti
budi atau akal. Ada pendapat yang membedakan antarabudaya dan
kebudayaan. Budaya adalah “daya dari budi” yang berupa cipta,rasa dan karsa,
sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa itu.
Kebudayaan adalah
hasil karya
pemikiran manusia yang dilakukan dengan sadar dalam
kehidupan kelompok.
Unsur-unsur potensi budaya yang ada pada manusia antara lain pikiran (cipta), rasa,
dan kehendak (karsa). Untuk menjadi
manusia sempurna, ketiga
unsur kebudayaan
tersebut tidak dapat
dipisahkan. Kebudayaan bersifat dinamis dan selalu berubah seiring
perkembangan
zaman.
Sifat
kebudayaan adalah berubah dari waktu ke waktu. Perubahan kebudayaan dapat disebabkan oleh adanya warga masyarakat yang tidak puas dengan peran-peran
yang
dipunyainya atau keberhasilan sosial
ekonomi
dan politik yang telah dicapainya.
Di samping
itu, kebudayaan juga cenderung
berubah karena
terpengaruh oleh nilai-nilai (‘kebudayaan’) yang datang dari luar. Pengaruh ini
berakibat
pada perbaikan atau naiknya derajat sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Kebudayaan juga cenderung berubah
karena
isi dan corak dari lingkungan sebuah masyarakat yang juga cenderung
berubah.
Adanya ‘pemaksaan’ yang datang dari luar melalui regulasi-regulasi yang diciptakan
oleh penguasa (kebijakan publik), merupakan faktor yang tidak bisa
diabaikan dalam konteks perubahan kebudayaan. Perubahan-perubahan
kebudayaan dengan sendirinya membawa implikasi luas terhadap tatanan dan pola kehidupan
masyarakat yang
dianggap telah baku.
B. Wujud Kebudayaan
Wujud kebudayaan menurut
Koentjaraningrat, mengacu pada J.J.Hongmann, terdiri atas tiga, yakni:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan dan sebagainya
2.
Wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari
masyarakat
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud ideal dari kebudayaan bersifat
abstrak, tidak dapat diraba, dan lokasinya berada dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan itu hidup.
Wujud ideal kebudayaan disebut juga adat atau adat istiadat. Wujud kedua dari kebudayaan disebut dengan sistem sosial, mengenai
tindakan berpola dari
manusia itu sendiri. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut dengan kebudayan fisik
berupa benda-benda yang dapat diraba, dilihat dan difoto.
C. Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan dapat dirinci dan
dipelajari dengan kategori-kategori subunsur dan sub-sub-unsur, yang saling berkaitan dalam suatu
sistem budaya dan sistem social, yang meliputi
1.
Sistem
dan organisasi kemasyarakatan
2.
Sistem
religi dan upacara keagamaan
3.
Sistem
mata pencaharian
4.
Sistem
(ilmu) pengetahuan
5.
Sistem teknologi dan
peralatan
6.
Bahasa
7. Kesenian
D. Karakteristik Budaya
Ada tujuh karakteristik budaya:
1. Kualitas Mempelajari Budaya; budaya diperoleh dari proses sosial
pada kelompok, tempat individu-individu belajar sesudah ia lahir dan berlangsung
dalam proses sosial
2.
Kualitas
Transmisi Budaya; budaya tidak hanya cukup untuk dipelajari tetapi dibutuhkan
kemampuan untuk mentransmisikan dari satu orang ke orang lain dari satu
generasi ke generasi berikutnya
3.
Kualitas
Sosial Budaya; individu individu mempelajari format kebiasaan kebiasaan pada
sikap-sikap personal, ia juga belajar bentuk-bentuk kebiasaan dan sikap-sikap
kelompok yang tumbuh dari hubungan sosial
4.
Kualitas
Ide Budaya; budaya terdiri atas konsep norma-norma ideal dan pola sikap. Ini
artinya, budaya berkenan dengan pola ide anggota kelompok
dalam bersikap dan menjadikan sandaran untuk menyesuaikan
diri
5.
Kualitas
Kepuasan Budaya; budaya juga dapat memuaskan keinginan manusia, secara biologi dan sosial. Kebiasaan
individu yang berlangsung lama hanya dilakukan bila mereka puas dan memuaskan keinginannya
6.
Kualitas
Adaptasi Budaya; dua elemen yang termasuk dalam karakter budaya ini, yakni:
pertama, perubahan budaya; kedua, perubahan ini membawa kekuatan adaptasi di
luar budaya
7. Kualitas Integrasi Budaya; kualitas integrasi terlihat dengan mudah pada budaya terisolasi, ketika elemenelemen pokoknya tidak dapat berubah dengan cepat. Integrasi tidak nampak dalam budaya heterogen dan budaya yang saling bergantung, ketika elemenelemen berada secara terus-menerus masuk pada budaya dan unsur pokoknya secara terus-menerus dan berubah dalam proses dinamis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar