PERUBAHAN SOSIAL
Oleh: Zulfi Khayatul Insyiroh (04020520089)
A.
Pengertian
Perubahan sosial
merupakan fenomena kehidupan yang dialami oleh setiap masyarakat di manapun dan kapan pun. Setiap masyarakat
manusia selama hidupnya pasti mengalami perubahan-perubahan dalam berbagai
aspek kehidupannya, yang terjadi di tengah-tengah pergaulan (interaksi) antara
sesama individu warga masyarakat, demikian pula antara masyarakat dengan
lingkungan hidupnya.
Definisi perubahan sosial menurut para ahli:
1.
Kingsley Davis
Mengartikan “perubahan
sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat”.
2.
Maclver
Mengatakan
“perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai perubahan-perubahan dalam
hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap
keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial”.
3.
JL. Gillin dan JP. Gillin
Mengatakan
“perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang
telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan
material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat”.
4.
Selo Soemardjan
Rumusnya adalah “segala
perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu
masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya
nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam
masyarakat”
B.
Pendekatan & Teori Perubahan Sosial
Menurut sudut pandang para ahli ilmu
pengetahuan sosial modern, khususnya bidang kajian sosiologi, pendekatan teori
perubahan sosial dapat dikelompokkan menjadi tiga pendekatan utama, yaitu:
a.
Pendekatan Ekuilibrium
Menyatakan
bahwa terjadinya perubahan sosial
dalam suatu masyarakat adalah karena terganggunya keseimbangan di antara unsur-unsur dalam sistem sosial di
kalangan masyarakat yang
bersangkutan, baik karena adanya dorongan dari faktor lingkungan (ekstern)
sehingga memerlukan penyesuaian (adaptasi)
dalam sistem sosial, seperti yang dijelaskan oleh Talcott Parsons, maupun karena terjadinya ketidakseimbangan
internal seperti yang dijelaskan
dengan Teori kesenjangan Budaya (cultural lag) oleh William Ogburn.
b.
Pendekatan Modernisasi
Dipelopori
oleh Wilbert More, Marion Levy,
dan Neil Smelser, pada dasarnya merupakan pengembangan dari pikiran-pikiran Talcott Parsons, dengan
menitikberatkan pandangannya pada
kemajuan teknologi yang mendorong modernisasi dan industrialisasi dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Hal ini mendorong terjadinya
perubahan-perubahan yang besar dan nyata dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk perubahan dalam organisasi atau kelembagaan masyarakat.
c.
Pendekatan Konflik
Dipelopori
oleh R. Dahrendorf dan kawan-kawan,
pada dasarnya berpendapat bahwa sumber perubahan sosial adalah adanya konflik yang intensif di antara berbagai
kelompok masyarakat dengan
kepentingan berbeda-beda (Interest groups). Mereka masing-masing memperjuangkan
kepentingan dalam suatu wadah masyarakat yang sama sehingga terjadilah konflik,
terutama antara kelompok yang berkepentingan untuk mempertahankan kondisi yang
sedang berjalan (statusquo), dengan kelompok yang berkepentingan untuk mengadakan perubahan kondisi masyarakat.
C.
Dimensi-dimensi Perubahan Sosial
Menurut Himes dan Moore, perubahan sosial mempunyai tiga dimensi
yaitu:
1.
Dimensi struktural, mengacu
pada perubahan-perubahan dalam bentuk struktur
masyarakat, menyangkut peranan , munculnya peranan baru, perubahan dalam kelas sosial, dan perubahan dalam lembaga
sosial. Perubahan tersebut
meliputi: bertambah dan berkurangnya kadar peranan, menyangkut aspek perilaku dan kekuasaan, adanya peningkatan atau penurunan sejumlah peranan atau
pengkategorisasian peranan, terjadinya modifikasi
saluarn komunikasi diantara peranan-peranan atau kategori peranan, dan terjadinya perubahan dari
sejumlah tipe dan daya guna fungsi sebagai
akibat dari struktur. Dalam melakukan peranan tertentu, individu yang merupakan
bagian dari struktur masyarakat dapat mengembangkan nilai integritas dengan
memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai kemanusiaan, serta mempunyai
konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran.
2.
Dimensi kultural, mengacu
pada perubahan kebudayaan dalam masyarakat.
Perubahan ini meliputi:
a. Inovasi kebudayaan. Inovasi kebudayaan merupakan komponen internal yang
memunculkan perubahan sosial dalam suatu masyarakat. Inovasi kebudayaan yang
paling mudah ditemukan adanya teknologi baru. Kebutuhan masyarakat yang semakin
kompleks memaksa individu untuk berfikir kreatif dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Adanya teknologi baru dapat dimanfaatkan untuk kebaikan hidup
bersama sehingga mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai religius
utamanya anti buli dan kekerasan.
b. Difusi,
merupakan komponen eksternal yang mampu menggerakan terjadinya perubahan sosial. Sebuah kebudayaan mendapat pengaruh
dari budaya lain, yang kemudian memicu terjadinya perubahan kebudayaan dalam
masyarakat yang mau menerima unsur-unsur kebudayaan tersebut.
c. Integrasi,
merupakan wujud perubahan budaya yang relatif lebih halus. Hal ini disebabkan dalam proses ini
terjadi penyatuan unsur-unsur kebudayaan
yang saling bertemu untuk kemudian memunculkan kebudayaan baru sebagai hasil penyatuan berbagai unsur-unsur budaya
tersebut.
3.
Dimensi interaksional, mengacu pada
adanya perubahan hubungan sosial
dalam masyarakat. Dimensi ini meliputi:
a. Perubahan dalam frekuensi. Perkembangan teknologi telah
menyebabkan berkurangnya frekuensi individu untuk saling bertatap muka, karena semua
kebutuhan dipenuhi dengan menggunakan teknologi.
b. Perubahan
dalam jarak sosial, perubahan teknologi informasi telah menggeser fungsi tatap muka dalam proses interaksi.
Individu tidak harus atap
muka dalam melakukan komunikasi dan interaksi secara langsung
c. Perubahan
perantara, mekanisme kerja individu dalam masyarakat modern banyak bersifat serba online
menyebabakan individu tidak membutuhkan
orang laindalam proses pengiriman informasi.
d. Perubahan dalam aturan atau pola-pola, banyak
aturan atau pola-pola hubungan
yang mengalami perubahan seiring perkembangan masyarakat.
Dalam mempelajari dimensi kultural dan dimensi
interaksional diperlukan integritas
seseorang dalam arti mempunyai tanggung jawab sebagai individu dalam partisipasinya di masyarakat.
Sehingga berkontribusi untuk meminimalisasikan
tindakan yang tidak sesuai dengan norma sosial bahkan dapat menampilkan pribadi
yang selalu berperilaku sesuai sesuai dengan norma sosial.
D.
Ciri-ciri Perubahan Sosial
Soekanto menjelaskan ciri-ciri perubahan sosial sebagai berikut :
a. Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembanganya karena setiap masyarakat
mengalami perubahan yang terjadi secara lambat laun mapun cepat.
b. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu akan diikuti oleh
perubahan pada lembaga-lembaga lain.
c. Perubahan yang berlangsung sangat cepat, biasanya mengakibatkan disorganisasi
karena dalam masyarakat ada proses penyesuaian diri/adaptasi. Disorganisasi
yang diikuti oleh proses reorganisasi akan menghasilkan pemantapan
kaidah-kaidah dan nilai yang baru.
d. Suatu perubahan tidak dapat dibatasi pada aspek kebendaan atau spiritual saja,
karena keduanya mempunyai kaitan timbal balik yang kuat. (Nanang Martono 2011)