Teori Komunikasi Kontemporer
Oleh: Zulfi Khayatul Insyiroh (04020520089)
A.
Pentingnya Belajar Teori Komunikasi
Sebagai
mahasiswa ilmu komunikasi kita harus tau keberadaan fenomena komunikasi yang
ada disekeliling kita dengan mempergunakan perspektif atau cara pandang
komunikasi. Ada satu kutipan yaitu “If you don’t know communication then you
don’t know anything” yang artinya apabila kita tidak tahu tentang fenomena
komunikasi maka kita tidak tahu apa-apa, maka sebagai anak komunikasi hilanglah
kesempatan kita untuk melihat fenomena di sekitar kita. Untuk itulah kita
penting belajar teori komunikasi
B.
Teori Komunikasi
1. Teori
Sekumpulan
konstruks yang saling kait mengkait dalam menjelaskan sebuah fenomena. Di dalam
konstruks ada tiga hal, yaitu:
-
Konsep: Generalisasi hal yang bersifat abstrak.
Dapat diamati
-
Konstruk: Konsep yang dapat diukur. Dimana
teori itu berada (sekumpulan konstruk) maka dia adalah konsep yang harus dapat
diukur.
-
Variable: Konstruk yang memiliki variasi nilai.
Penelitian
2. Komunikasi
Pengiriman
pesan dari komunikator/sumber pesan kepada komunikan/penerima yang akan
menimbulkan efek. Sulit mendefinisikan pengertian komunikasi, karena setiap
orang dapat membuat pengertian komunikasi sesuai dengan pemahamannya.
C.
Cara Mempelajari Teori Komunikasi
-
Pahami teori ada di tingkatan konstruk.
-
Tahu pada level apa fenomena yang diamati,
diantaranya: Komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi
organisasi, komunikasi massa.
-
Pahami peta teori pada masing-masing level komunikasi.
D.
Teori Stimulus Organism Response (S-O-R)
Teori ini sering dikenal dengan
teori S-O-R, teori S-O-R ini dikembangkan oleh seorang pria yang bernama Houland
pada tahun 1953. Teori ini berangkat akibat adanya pengaruh dari ilmu psikologi
dan ilmu komunikasi, hal ini bisa terjadi karena ilmu komunikasi dan psikologi
memiliki kajian yang sama yaitu ada sikap, opini, perilaku, kognisi, dan
afeksi.
Asumsi Dasar Teori S-O-R adalah
penyebab terjadinya perubahan perilaku dalam masyarakat bergantung pada
kualitas stimulus atau rangsangan yang berkomunikasi pada organisme tersebut.
Menurut teori S-O-R, perubahan sikap
serupa dengan proses belajar individu. Proses belajar individu yakni pesan
sebagai stimulus yang diberikan oleh komunikator kepada komunikan sebagai
organisme dapat diterima ataupun ditolak, jika komunikan menolak stimulus
tersebut berarti stimulus tersebut kurang efektif untuk digunakan dalam
mempengaruhi atau memberi perhatian kepada individu. Namun apabila stimulus
diterima berarti menandakan adanya perhatian dari komunikan atau organisme
tersebut. Ketika komunikan mengerti arti dari stimulus tersebut, itu menandakan
bahwa proses belajar terus berlanjut dan berarti stimulus tersebut efektif
untuk digunakan, sehingga setelah komunikan mengerti maksudnya dia akan
mengolah stimulus atau pesan yang diberikan, dan dia akan menghasilkan suatu
berupa tindakan atau proses perubahan perilaku demi mewujudkan stimulus yang
telah diterimanya.
E.
Teori Cultural Studies
1. Sejarah Cultural Studies
Cultural Studies pertama kali muncul ditengah semangat neo marxisme yang
berupaya untuk meredefinisikan marxisme sebagai perlawanan terhadap dominasi
dan hegemoni budaya tertentu. Culture studies ini berakar dari gagasan Karl
Marx yang mempunyai pandangan bahwa kapitalisme telah menciptakan kelompok
elite kuasa untuk mengeksploitasi kelompok yang tidak berkuasa atau lemah. Hal
ini menyebabkan, kelompok yang lemah merasa tidak memiliki kontrol atas masa
depan mereka.
2. Tokoh-Tokoh Culture Studies
-
Richard Hoggart
-
Raymond Williams
-
E.P Thompson
-
Stuart Hall
Culture
Studies sering disebut dengan antidisiplin, karena culture studies ini secara
bebas meminjam beragam disiplin ilmu di ranah sosial humaniora baik yang berupa
teori maupun metodenya. Dengan demikian, Culture Studies ini bisa dikatakan
tidak memiliki batasan yang jelas. Seluruh teori maupun metode dari filsafat,
sosiologi, antropologi, psikologi, sastra, bahasa, ekonomi, sejarah, polotik,
dan lain sebagainya itu tercakup dalam culture studies ini. Cultures Studies beranggapan
ketika kita hanya melihat satu fenomena hanya dengan satu perspektif atau satu
disiplin keilmuan saja, maka itu akan sangat membatasi cara pandang kita,
sehingga sebaiknya kita mampu mengkolaborasikan atau menggabungkan itu dari
perspektif atau disiplin keilmuan dalam melihat suatu fenomena.
Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=HtV_7ylx_7s
Tidak ada komentar:
Posting Komentar